Jakarta, CNN Indonesia —
Dua universitas ternama dunia di Amerika Serikat telah memberhentikan mahasiswanya yang masih tertawa dan menolak menghentikan demonstrasi pro-Palestina di kampus. Dua universitas Ivy League adalah Universitas Columbia dan Universitas Cornell.
Reuters melaporkan awal pekan ini bahwa Universitas Columbia mulai menangguhkan mahasiswa yang menolak meninggalkan kampus setelah upaya dialog dengan mahasiswa gagal.
Aktivis pro-Palestina sebelumnya telah melakukan demonstrasi dengan berkemah dan mendirikan tenda di halaman kampus yang berbasis di New York tersebut.
Pihak kampus akhirnya mengeluarkan surat peringatan pada Senin pagi yang memperingatkan bahwa mahasiswa yang masih enggan berangkat pada pukul 14.00 waktu setempat dan belum menandatangani formulir persetujuan akan dikenakan skorsing.
Mahasiswa yang diskors akan dianggap tidak memenuhi syarat untuk menyelesaikan semester dengan baik.
“Kami telah mulai meliburkan mahasiswa sebagai bagian dari upaya berkelanjutan kami untuk memastikan keamanan di kampus kami,” kata juru bicara universitas Ben Chang dalam sebuah pengarahan pada Senin sore.
“Kamp tersebut telah menciptakan lingkungan yang tidak bersahabat bagi banyak mahasiswa dan dosen Yahudi serta gangguan kebisingan yang mengganggu proses belajar mengajar dan persiapan ujian akhir,” kata Chang.
Keputusan untuk mengeluarkan mahasiswa tersebut diambil setelah pihak universitas memberikan ultimatum kepada para aktivis untuk mengosongkan kampus pada pukul 14.00 waktu setempat dan menandatangani formulir persetujuan untuk mematuhi kebijakan universitas.
Meski begitu, para aktivis tak beranjak dari tempatnya. Kampus akhirnya memutuskan untuk memberhentikan mereka yang dianggap tidak patuh.
Rektor Universitas Columbia Nemat Minouche Shafik sebelumnya mengatakan dialog antara organisasi mahasiswa dan pimpinan universitas terhenti.
Shafik mengatakan Universitas Columbia tidak akan melakukan divestasi dengan Israel, yang merupakan tuntutan utama para pengunjuk rasa. Sebagai imbalannya, universitas tersebut menawarkan investasi kesehatan dan pendidikan di Gaza dan menjadikan kepemilikan investasi langsung Kolumbia lebih transparan.
Selain Columbia University, kampus bergengsi dunia lainnya, Cornell University juga menerapkan aturan suspensi yang sama.
“Orang-orang bertanya dan menerima banyak kesempatan, dalam waktu lima jam, untuk mempertimbangkan pilihan mereka, namun akhirnya memutuskan untuk tidak bergerak,” kata Pollack.
“Dia kemudian memperingatkan beberapa kali pada siang dan malam hari bahwa jika tenda tidak dilepas, dia akan diskors, dikenakan tindakan disipliner karena melanggar aturan waktu, tempat dan prosedur universitas kami. Dia kembali menolak untuk mematuhi, dan kami dilanjutkan dengan suspensi sementara seri untuk pertama kalinya,” lanjut Pollack, seperti dikutip CNN.
Dalam beberapa pekan terakhir, demonstrasi menentang agresi Israel di Palestina telah menyebar ke seluruh Amerika Serikat. Demonstrasi tersebut dihadiri ratusan mahasiswa dan dosen dari berbagai latar belakang.
Setidaknya ada tiga tuntutan yang diajukan para aktivis, yakni divestasi, transparansi keuangan universitas, dan amnesti bagi mahasiswa dan dosen yang disiplin atas perannya dalam aksi protes.
Protes pro-Palestina ini banyak ditentang oleh pihak lain, terutama Yahudi. Banyak pelajar yang akhirnya ditangkap polisi karena dianggap mengganggu lingkungan. (blq/rds)