Kala Industri Fesyen Melawan Emisi Karbon

Paris, CNN Indonesia —

Industri fashion merupakan salah satu penyebab masalah lingkungan di seluruh dunia. Salah satunya adalah permasalahan emisi karbon yang masih sulit diatasi hingga saat ini.

Setiap proses mulai dari produksi hingga pemasaran di industri fashion mengeluarkan emisi karbon. Menurut UNFCCC, Badan Perubahan Iklim PBB, industri fesyen dan pakaian diperkirakan melepaskan 10% dari total emisi global.

Daur ulang merupakan salah satu solusi yang dapat dilakukan industri fashion untuk mencegah masalah emisi karbon.

“Peralihan ke poliester daur ulang telah mengurangi emisi gas rumah kaca dari proses pengadaan bahan mentah untuk produk-produk ini sekitar 70 persen,” kata Yusuke Takahashi, pendiri Clothing for Contemporary Life (CFCL), kepada CNNIndonesia.com di Paris, Prancis, pada awal April. . Karena itu.

Daur ulang adalah salah satu ciri khas CFCL. Merek asal Jepang ini bahkan telah mendapatkan sertifikasi B Corp, sebuah acuan penting dalam industri fashion yang menghitung dampak produksi industri terhadap masalah sosial dan lingkungan.

Takahashi telah membangun rumah mode yang peduli terhadap masyarakat dan lingkungan. Pilihan ini penuh dengan jebakan tidak hanya dari sudut pandang kreatif, tetapi juga dari sudut pandang teknis.

Misalnya saja CFCL yang menghadirkan kostum berbahan 36 botol air mineral dalam koleksinya yang dipamerkan di Paris Fashion Week Februari lalu. Musim lalu, kostum yang sama hampir dibuat dari 6,5 botol air mineral.

Begitu pula celana yang semula terbuat dari 8,5 botol air kini menjadi 44,7 botol.

“Untuk celana saja, mengganti poliester murni dengan 100% poliester daur ulang mengurangi persentase emisi terkait sumber bahan bakunya dari 44% menjadi 36%,” jelasnya sambil menunjukkan program daur ulang pada setiap produk yang ia ciptakan.

Koleksi Takahashi, bertajuk “Knitware Cadence”, memadukan daya tahan sporty dengan estetika formal dan jalanan secara mulus, memenuhi cita-cita lemari pakaian sehari-hari dengan keragamannya. Namun siapa sangka koleksi keren tersebut terbuat dari plastik daur ulang.

Gelombang fashion berkelanjutan semakin meningkat akhir-akhir ini. Tidak hanya di dunia, tapi juga di Indonesia. Misalnya, Sejauh Mata Bisa Melihat selalu menggunakan bahan daur ulang dan ramah lingkungan. Atau Sukkha Citta yang kerap menggunakan bahan baku alami dan organik untuk mengurangi limbah produksi.

Namun, Takahashi menilai industri fesyen kesulitan mempertahankan konsep berkelanjutan yang diusungnya.

“Sangat sulit [untuk bertahan dan mengikuti gelombang mode berkelanjutan],” kata Takahashi.

Salah satu alasannya adalah tingkat kesulitan teknis dan investasi awal yang besar dan seringkali tidak konvensional. Hal ini semakin menambah tantangan bagi para pelaku industri fashion yang ingin menerapkan konsep berkelanjutan. (ashar/asar)