Jakarta, CNN Indonesia —
Hamas mengatakan perwakilannya akan melakukan perjalanan ke Kairo pada Sabtu (4/5) dengan “iktikad baik” untuk melanjutkan pembicaraan dengan negara-negara yang memediasi proposal gencatan senjata Israel di Gaza.
Mereka mengklaim bertekad mencapai kesepakatan untuk memenuhi seluruh tuntutan Palestina, termasuk penghentian agresi, pertukaran sandera, dan rekonstruksi.
“Kami menekankan niat baik pimpinan Hamas dalam menangani proposal gencatan senjata yang baru-baru ini diterima, dan kami ingin semangat yang sama untuk mencapai kesepakatan,” kata Hamas, dilansir AFP, Jumat (3/5). kata Hamas.
“Kami bertekad untuk mencapai kesepakatan antara Hamas dan Pasukan Perlawanan Palestina, yang memenuhi tuntutan rakyat untuk penghentian total permusuhan, penarikan pasukan, pemulangan pengungsi, bantuan dan rekonstruksi, serta perjanjian pertukaran.
Pejabat senior Hamas mengatakan pemimpin utama mereka Khalil al-Haya akan memimpin delegasi ke Kairo akhir pekan ini.
Meski mengaku antusias dengan usulan gencatan senjata, Hamas sebelumnya menilai Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak mau benar-benar mencapai kesepakatan.
Hal ini terjadi setelah pernyataan bahwa mereka akan melanjutkan serangannya di Rafah tanpa perjanjian gencatan senjata di Gaza.
Sebagai mediator, Amerika Serikat, Mesir dan Qatar baru-baru ini menunggu tanggapan Hamas terhadap usulan Israel untuk melakukan gencatan senjata selama 40 hari dan pertukaran sandera.
Menteri Luar Negeri AS Blinken mulai Senin (29/4) menilai proposal terbaru yang diajukan Israel adalah “yang paling dermawan”. Oleh karena itu, ia meminta Hamas segera menghentikan usulan gencatan senjata tersebut.
Namun, dia tak merinci lebih lanjut isi usulan tersebut. Hingga Kamis (2/5), media Lebanon Al Mayadeen memberitakan dokumen terbaru yang diduga merupakan hasil negosiasi antara Israel dan Hamas.
Mereka mengklaim bahwa pembicaraan antara Israel dan Hamas yang telah berlangsung beberapa waktu telah sepakat untuk bertukar sandera sehingga menghasilkan gencatan senjata.
Kedua belah pihak disebut sepakat untuk bertukar sandera, baik dalam keadaan hidup maupun mati. Al Mayadeen mengatakan perjanjian itu akan berlangsung lebih dari 30 hari. (AFP/Kris)