Jakarta, CNN Indonesia —
Dedi Herlambang, Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian Transportasi (Instran), mengatakan status tes mengemudi bus wisata sulit dipantau karena kendaraan jenis tersebut tidak masuk terminal dan tidak memiliki rute tetap.
Menurut Dedi, saat ini banyak bus wisata yang berstatus uji SIM tidak aktif atau mati karena rata-rata kendaraan sewaan tidak pernah lulus uji SIM dan kerap luput dari pengawasan pemerintah.
“Karena bus wisata ini tidak pernah masuk terminal, maka jauh dari pengawasan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perhubungan atau Dinas Perhubungan (Dishub) setempat, kalau izin trayeknya untuk pariwisata biasanya mengeluarkan izin. untuk j. Dinas Perhubungan setempat,” kata Deddy, Minggu (13/05).
Deddy mengatakan, kecelakaan pada Sabtu (11/5) di bus wisata yang membawa siswa SMK Lingga Kencana Depok di Subang, Siatre, Jawa Barat, akibat rem blong, bukan kejadian langka di Indonesia.
Dia mengatakan, banyak penyebab kecelakaan bus karena rem blong, ban kempes, bantalan rem, atau masalah kompresi.
Dikatakan, semua itu bisa dicegah jika bus pariwisata secara berkala melakukan pemeriksaan lalu lintas yang diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 10.
Bus yang ditumpangi rombongan siswa SMK Lingga Kencana Depok ini dikabarkan diproduksi tahun 2006, namun bodinya sudah dua kali dicat agar terlihat baru.
Selain itu, bus Trans Putera Fajar berplat AD 7524 OG juga telah menjalani pengujian berkala mulai Desember 2023.
“Kondisi busnya memang belum terlalu tua, tapi kalau ada masalah pada supirnya, sudah 6 bulan, busnya sudah telat, dan busnya sudah dua kali berganti warna, jadi ya ada update dari aslinya. kelompok. , mungkin sudah jelek, lalu istilahnya sudah dibangun kembali, sudah dicat, bagus, tapi mesinnya masih sama, kata Deddy.
Deddy berpesan agar pemerintah lebih tegas dan tegas dalam menjamin keselamatan penumpang. Deddy juga menekankan pentingnya melakukan tes mengemudi secara rutin terhadap semua jenis bus, termasuk shuttle bus dan bus wisata, serta kendaraan penumpang lainnya seperti mobil penumpang.
“Masalah keamanan jangan dipermudah atau dipermudah, malah dipersulit,” kata Deddy.
Selain itu, Deddy juga menghimbau calon penyewa jasa angkutan tersebut untuk tidak memilih kendaraan hanya karena harga sewanya murah. Menurutnya, sangat penting untuk memastikan kendaraan yang disewa memenuhi standar keselamatan dan layak digunakan.
Menurut Deddy, sudah menjadi kebiasaan masyarakat membandingkan harga berbagai perusahaan bus (PO) dan memilih yang termurah.
“Para penyewa ini yang memilih, kalau murah jangan sampai memilih, pasti berbahaya, kebanyakan yang murah itu yang bermasalah,” kata Dedi.
(Afrika/fea)